ARTIKEL PUSAKA PENYATU GOLONGAN YANG BERUBAH HALUAN


PUSAKA PENYATU GOLONGAN YANG BERUBAH HALUAN


Keris Condong Campur adalah salah satu keris pusaka milik Kerajaan Majapahit yang banyak disebut dalam riwayat dan legenda pusaka Majapahit. Keris ini terkenal dengan nama Pusaka Kanjeng Kyai Condong Campur. Konon keris pusaka mandraguna ini dibuat secara beramai-ramai oleh seratus orang Mpu. Bahan kerisnya diambil dan dibuat dari berbagai tempat. Dan akhirnya keris tersebut menjadi keris sakti yang sangat ampuh namun memiliki sifat dan watak yang jahat. Dalam dunia keris seringkali muncul mitos dan legenda yang mengatakan adanya pertarungan antar beberapa keris. Salah satunya adalah Keris Sabuk Inten, Keris Sengkelat, dan Keris Condong Campur.

Keris Sabuk Inten yang merasa terancam keberadaannya dengan kehadiran keris Condong Campur akhirnya menyatakan perang terhadap Keris Condong Campur. Dalam pertarungan tersebut, Sabuk Inten rupanya kalah. Sedangkan Keris Sengkelat yang juga merasa tertekan oleh kondisi ini akhirnya ikut memerangi Condong Campur. Di sinilah pertempuran hebat terjadi, hingga akhirnya Condong Campur mengaku kalah. Condong Campur terbang melesat ke angkasa dan menjadi sebuah bentuk Lintang Kemukus atau dalam bahasa kerennya, komet atau bintang berekor, dan mengancam akan kembali lagi ke bumi setiap 500 tahun sekali untuk membuat kekacauan dan huru hara, yang dalam bahasa Jawa sering disebut ontran - ontran.

Ketika Kerajaan Majapahit sudah mencapai masa kejayaannya, terjadi banyak sekali perbedaan atau heterogenitas di negeri itu. Heteroginitas ini menyebabkan terjadinya perpecahan di masyarakat, baik dari aspek agama, segi budaya, tingkatan kasta, dsb. Paling tidak ada muncul 2 golongan yang memiliki perbedaan pendapat dan pandangan hidup yang sangat berpengaruh pada masa itu, yakni :
- Golongan pertama, adalah golongan dari para pemilik modal, pedagang dan pejabat.

- Golongan kedua, adalah golongan dari masyarakat bawah yang kecewa dengan kondisi


yang sedang mereka alami, seperti keterpurukan nasib, tekanan hidup serta penindasan.
Dalam dunia keris, golongan pertama dapat diibaratkan seperti sosok keris Sabuk Inten. Sabuk sendiri berarti ikat pinggang. Sedangkan Inten memilki makna intan atau permata. Dengan demikian, Sabuk Inten menggambarkan golongan para pemilik modal yang sering bergelimang harta benda. Golongan kedua yang disebutkan di atas merupakan perwakilan dari masyarakat kelas bawah yang kecewa dan marah terhadap keadaan yang mereka alami. Dalam bahasa Jawa, perasaan kecewa dan marah sering disebut sengkel atine atau jengkel hatinya. Dalam dunia keris, kondisi ini sangat identik dengan keris yang mewakili perasaan tersebut seperti Keris Sengkelat, yang namanya diambil dari istilah sengkel atine atau jengkel hatinya.

Keris Pusaka Sabuk Inten merupakan mahakarya dari Pangeran Mpu Sedayu ( Mpu Supa Mendagri/Mpu Pitrang ) yang dibuat pada era kerajaan Majapahit, tepatnya pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya V ( 1466 – 1478 ). Nama lainnya adalah Keris Kyai Ageng Puworo. Sang Mpu yang telah berhasil melaksanakan tugas untuk membawa kembali Keris Sengkelat, mendapatkan penghargaan berupa sebuah tanah subur di daerah pesisir utara yang kemudian dikenal sebagai daerah bernama Sedayu ( sekarang bernama Gresik ). Selain itu, Mpu Sedayu juga mendapatkan gelar kebangsawanan Pangeran yang berasal dari Sedayu ( Pangeran Sedayu ) beserta seorang Puteri Keraton.


Sedangkan Keris Sengkelat sendiri juga merupakan keris pusaka yang dibuat oleh Mpu Supa Madrangki. Menurut salah satu walisongo yang terkenal pada saat itu,Sunan Kalijaga, mengatakan barang siapa saja yang membawa Kyai Sengkelat selama satu tahun, maka dia akan menjadi Raja Tanah Jawa. Sunan Kalijaga memberikan keris itu kepada Raden Patah. Dan terbukti, dalam waktu setahun Raden Patah akhirnya benar-benar menjadi Raja yang menguasai Tanah Jawa. Mpu Supa sendiri adalah merupakan suami dari Dewi Rasawulan, adik Sunan Kalijaga.

Dengan adanya perbedaan tersebut, maka di buat sebuah keris yang mewakili persatuan dan pembauran ( dalam istilah jawa di sebut condong campur ), antar golongan. Tetapi yang kemudian terjadi hanyalah pembauran semu saja. Padahal sesungguhnya tidak pernah terjadi pembauran dalam kehidupan masyarakat saat itu. Tidak berhasilnya upaya pembauran ini disebabkan ketidakinginan para pemilik modal dalam melakukan upaya pembauran tersebut dan khawatir akan terganggunya kepentingan mereka sendiri. Dalam legenda dan mitos, konon keris pusaka ini dibuat dan di kerjakan secara beramai-ramai oleh seratus orang Mpu. Bahan kerisnya sendiri diperoleh dari berbagai tempat di penjuru nusantara. Dan akhirnya keris ini menjadi keris pusaka yang sangat ampuh meskipun akhirnya memiliki watak yang egois dan jahat.

Namun dalam kenyataannya, masyarakat Majapahit tetap menunjukkan perpecahan, baik antar rakyat jelata maupun kaum ningrat di dalam istana. Pada akhirnya perbedaan dan perpecahan tersebut menyebabkan Majapahit menjadi lemah yang menjadi penyebab utama mereka tunduk pada Kerajaan Demak, yang merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara dan baru didirikan oleh putra dari raja Majapahit itu sendiri, Raden Patah. Ketika itu Raden Patah menolak tawaran ayahnya, Brawijaya untuk menggantikan Arya Damar ( konon merupakan ayah angkat Raden Patah ) menjadi bupati Palembang. Ia melarikan diri ke Pulau Jawa ditemani oleh orang kepercayaannya, Raden Kusen. Sesampainya di Jawa, keduanya berguru pada Sunan Ampel yang berada di suatu desa yang saat ini merupakan termasuk bagian wilayah Surabaya. Raden Kusen kemudian kembali lagi ke kerajaan dan mengabdi kepada Majapahit, sedangkan Raden Patah pindah ke Jawa Tengah dan selanjutnya membuka lahan baru di hutan Glagahwangi untuk kemudian membangun sebuah pesantren yang terkenal. Hingga saat ini masih banyak masyarakat daerah, terutama orang – orang Jawa yang mempercayai bahwa Keris Condong Campur merupakan salah satu keris pusaka yang memiliki kekuatan jahat dan masih berkeliaran untuk membalaskan dendamnya. Sumbernya berasal dari kisah riwayat yang diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang dan para leluhur jaman dahulu. Konon pada suatu ketika, di kerajaan Majapahit sedang tertimpa masalah besar yang sulit dan Empu Supa Mandrangi mendapat perintah langsung dari sang Raja Majapahit sendiri, Prabu Brawijaya, untuk mengatasinya. Dari hasil bersemedinya, Empu Supa mengetahui bahwa salah satu pusaka sakti keraton Majapahit yang bernama Condong Campur rupanya menginginkan tumbal berupa darah manusia. Lalu dengan menggunakan bahan besi pilihan, Empu Supa membuat keris berluk 11 Naga Sasra Sabuk Inten dan keris berluk 13 Sengkelat. Setelah selesai di kerjakan, keduanya ditempatkan dalam satu peti bersama dengan Keris Condong Campur. Disitulah Sengkelat berkelahi melawan Condong Campur. Ujung keris condong campur patah, dan musnah keangkasa raya. Selain itu Condong Campur juga mengancam rakyat akan membalas dendam suatu saat, apabila terlihat Bintang Kemukus disebelah barat. Itulah sebabnya orang Jawa percaya jika ada bintang kemukus dilangit pada malam hari merupakan pertanda adanya wabah penyakit yang akan menjangkiti rakyat, oleh karena itu orang - orangpun membuat sesajian untuk menolaknya.
Post Comment
Rekomendasi close button
Back to top

0 komentar

Bagaimana Pendapat Anda?