Mengenal Senjata Adat MANDAU





Masyarakat Indonesia sejak dahulu terkenal atas keragaman suku bangsanya ( multikultural ) sehingga mampu melahirkan beragam ras, kebudayaan, kesenian, hingga kepercayaan yang berbeda bagi setiap kelompok. Dari situ timbulah berbagai macam bentuk pengobatan aternatif atau tradisional. Sebagian yang menjadi pilihan masyarakat Indonesia sebagai pengobatan alteratif bisa menjadi suatu hal yang sangat tidak rasional apabila dilihat dari kacamata medis modern saat ini. Misalnya seperti pengobatan yang mengandung nilai - nilai magis, pengobatan dengan ritual pemanggilan arwah melalui perantara dukun atau menggunakan organ - organ hewan tertentu yang sudah di awetkan. Salah satu suku yang dikenal eksistensinya di Indonesia adalah suku Dayak. Tidak hanya dikenal di nusantara, Dayak sudah dikenal luas dari berbagai bangsa di dunia. Penyebabnya tidak lain karena mereka di anggap memiliki ciri khas dan keunikan yang benar - benar tradisional dan jauh dari kesan modern. Maka tak heran bila suku Dayak dianggap merupakan salah satu suku yang masih mempertahankan kebudayaan dan adat istiadat leluhurnya sejak jaman dahulu kala. Dayak merupakan nama kelompok atau suku yang paling terkenal ( atau bahkan tertua ) dari sekian banyak suku asli yang menetap di Kalimantan, yang sebagian besar masyarakatnya menghuni wilayah / daerah pedalaman. Daerah hilir atau daerah pantai adalah tempat yang banyak dihuni oleh orang - orang yang berasal dari suku Melayu, Banjar, Bugis, Jawa, Madura, dan lain - lain. Suku Dayak, sebagaimana suku - suku lainnya, juga memiliki kebudayaan dan adat istiadat yang berlaku bagi masyarakat mereka.

Sejak dulu suku Dayak dikenal sebagai kelompok orang - orang yang memiliki pengetahuan dan kepandaian dalam hal penyembuhan / pengobatan penyakit dengan media obat - obatan / ramuan tradisional. Mereka memiliki dukun - dukun yang handal. Mereka juga telah mengenal beragam jenis tumbuhan dan binatang yang memiliki khasiat untuk mengobati berbagai jenis penyakit, yang didukung dengan keberadaan hasil alam. Kebudayaan Dayak dikenal memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan yang lain. Salah satu seni kebudayaan yang terkenal dari suku Dayak adalah dari jenis senjata yang mereka gunakan. Mandau adalah senjata tradisional yang paling terkenal dari masyarakat Dayak, yang merupakan pusaka turun temurun sejak jaman bahari. Mandau sendiri merupakan senjata sejenis tombak yang terbuat dari batu pegunungan, dan dikombinasikan dengan besi tajam sebagai pucuknya. Selain itu, senjata ini memiliki ukiran yang khas, dan di anggap sebagai senjata pusaka yang memiliki tuah dan dianggap keramat oleh sebagian besar dari masyarakat mereka.


Pada masa lalu saat terjadi peperangan antar kelompok, suku Dayak pada umumnya menggunakan senjata khas mereka tersebut. Mandau merupakan sebuah pusaka yang secara turun - temurun telah digunakan oleh suku Dayak dan diaanggap merupakan salah satu benda yang dianggap keramat. Selain digunakan untuk berperang, mandau juga biasanya dipakai untuk menemani mereka dalam melakukan kegiatan sehari - hari , seperti berburu hewan, memotong daging, memotong tumbuh - tumbuhan, dan lain sebagainya. Biasanya orang awam sering kali agak sulit membedakan antara mandau dan ambang. Orang yang tidak terbiasa melihat atau bahkan memegang mandau akan sulit untuk membedakan antara mandau dengan ambang karena apabila dilihat secara kasat mata, memang keduanya nyaris sama. Tetapi sesungguhnya kedua senjata tersebut sangatlah berbeda. Jika kita melihatnya lebih detail maka akan terlpampang jelas perbedaan yang sangat mencolok, yakni apabila senjata itu adalah mandau maka akan ditemukan ukiran yang biasanya bertatahkan logam mulia, seperti emas, tembaga, atau perak. Mandau juga teksturnya lebih kuat serta lentur, karena mandau terbuat dari batu gunung yang sarat mengandung besi serta diolah oleh seorang ahli pengrajin mandau. Sedangkan ambang cirinya hanya terbuat dari besi biasa, seperti besi dari per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan atau batangan besi yang lainnya.


Pusaka mandau selain dibuat dari besi batuan gunung lalu diukir, pulang atau hulu mandau ( batang untuk memegang ) juga dibuat berukiran dengan menggunakan tanduk hewan kerbau sebagai pulang-nya yang berwarna hitam, serta menggunakan tanduk rusa khusus untuk pulang yang berwarna putih. Pembuatan pulang bisa juga menggunakan kayu kayamihing. Pada bagian ujungnya diberi atau ditaruh bulu binatang atau bisa juga rambut manusia. Untuk dapat merekatkan sebuah mandau dengan pulang-nya dapat menggunakan getah kayu sambun yang sudah terbukti sangat kuat dan melekat. Selanjutnya diikat lagi dengan menggunakan jangang, namun bisa pula menggunakan uei ( anyaman rotan ). Besi mantikei yang biasanya digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan mandau, sering kali ditemukan didaerah Kerang Gambir, sungai Karo Jangkang, sungai Mantikei, sungai Samba, sungai Katingan, dan desa Tumbang Atei. Tidak lengkap kiranya jika mandau tidak memiliki kumpang. Kumpang adalah sebutan untuk sarung ( wadah ) bagi pusaka mandau, dan kumpang mandau merupakan tampat untuk masuknya mata mandau yang biasanya dilapisi tanduk rusa. Pada kumpang mandau diberi tempuser undang, yakni ikatan yang terbuat dari anyaman uei ( rotan ). Pada bagian depan kumpang dibuat sebuah sarung kecil untuk tempat menyimpan langgei puai. Langgei puai merupakan sejenis pisau kecil sebagai pelengkap senjata mandau. Tangkainya panjang sekitar 20 cm dari mata anggei, bentuknya lebih kecil dari pada tangkainya. Fungsi dari langgei puai adalah untuk menghaluskan atau membersihkan benda-benda, contohnya rotan. Sarung atau kumpang langgei selalu melekat pada kumpang mandau. Sehingga dapat dikatakan bahwa antara mandau dan langgei puai adalah sebuah kesatuan yang tidak dapat terpisahkan.


Mandau atau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau biasanya wajib disimpan dan dirawat dengan baik serta diletakkan ditempat yang khusus sebagai tanda penghormatan. Hal itu disebabkan karena sejak dulu suku Dayak sudah yakin bahwa mandau sesungguhnya memiliki tuah/ kekuatan spiritual yang mampu melindungi si pemiliknya dari serangan fisik atau pun niat jahat dari musuh - musuhnya. Mandau juga diyakini sebagai pusaka yang memiliki penjaga berupa sosok mahluk seperti seorang perempuan, dan japabila pemilik mandau tersebut bermimpi telah bertemu dengan sosok perempuan tersebut, maka berarti sang pemilik konon akan mendapatkan rejeki yang berlimpah. Selain mandau, masih banyak lagi senjata pusaka yang terkenal dari suku Kalimantan tersebut. Salah satunya adalah Pusaka Taji. Konon, pusaka ini sudah di buat sejak masa penjajahan Belanda yang menguasai tanah Kalimantan beberapa ratus tahun yang lalu. Pusaka ini merupakan senjata tradisional yang di gunakan oleh masyarakat Kalimantan, bahkan konon dipakai oleh banyak suku, dalam memerangi para penjajah. Selain itu, disebut pusaka karena dianggap keramat dan memiliki tuah kesaktian yang tinggi. Bahkan kabarnya setiap pusaka taji memiliki penghuni ( khodam ) yang mengisi benda tersebut. Tak heran bila pusaka taji menjadi barang incaran para kolektor di masa kini.
Post Comment
Rekomendasi close button
Back to top

0 komentar

Bagaimana Pendapat Anda?