Pesona Kekayaan Pulau Borneo




Pulau Borneo atau lebih dikenal di Asia sebagai Pulau Kalimantan, adalah pulau terbesar ketiga di dunia, dan memiliki julukan ’Pulau Seribu Sungai’. Nama Borneo ini sudah dikenal di seluruh dunia sejak abad ke-15 Masehi. Nama Borneo sendiri konon berasal dari nama sebuah pohon, yaitu Pohon Borneol ( dalam bahasa Latin di sebut Dryobalanops camphora ) yang mengandung terpetin yang banyak digunakan sebagai bahan untuk antiseptik atau minyak wangi dan kamper. Kayu kamper sendiri banyak tumbuh di pulau Kalimantan, yang kemudian oleh para pedagang dari Eropa disebut sebagai pulau Borneo atau pulau penghasil borneol. Namun adapula yang menyebutkan asal usul dari Kerajaan Brunei, yang ketika itu mulai datang bangsa dari Eropa ke wilayah Nusantara ini, maka nama Brunei tersebut dicocokan oleh lidah mereka menjadi sebutan ‘Borneo’ dimana selanjutnya nama Borneo inilah yang akhirnya meluas ke seluruh dunia. Letak pulau ini berada di sebelah Utara Pulau Jawa, dan sebelah Barat Pulau Sulawesi. Kalimantan terbagi atas Brunei Darrusalam, Malaysia ( 1/3 bagian ) dan Indonesia ( 2/3 bagian ). Provinsi Kalimantan dibentuk pada tanggal 14 Agustus 1950, setelah dibubarkannya RIS ( Republik Indonesia Serikat ), yang hingga kini masih diperingati sebagai hari jadi Provinsi Kalimantan Selatan. Pulau Kalimantan memiliki nama sebutan lain di tiap daerah / wilayah, di antaranya Kalamantan, Calémantan, Kalémantan, Kelamantan, Kilamantan, Klamantan, Klémantan, K'lemantan, dan Quallamontan. Nama Borneo sendiri diambil dari istilah kesultanan Brunei, dan merupakan nama yang di pakai oleh kolonial Belanda dan Inggris dalam menyebut pulau ini. Sedangkan Kalimantan sering di pakai oleh masyarakat dari Timur, termasuk di Indonesia sendiri. Pada masa lalu, Kalimantan mendapat banyak sebutan / istilah seperti Bakalapura ( pada saat kejayaan Kerajaan Singasari ), Tanjungpura ( Kerajaan Melayu ), Tanjungnagara ( Kerajaan Majapahit ), dan Nusa Kancana ( Kerajaan Kadiri / Prabu Jayawijaya dalam kitab - kitab Jawa kuno ).


Asal - usul nama Kalimantan sebenarnya tidak begitu jelas. Sebutan kelamantan sering kali digunakan oleh masyarakat yang berada di Sarawak, dimana sebutan ini ditujukan bagi kelompok penduduk setempat yang mengkonsumsi sagu di wilayah utara pulau ini. Menurut seorang pakar bernama Crowfurd, kata Kalimantan adalah nama sejenis buah mangga ( Mangifera ) yang banyak tumbuh di daratan tersebut, sehingga pulau Kalimantan dijuluki pulau mangga. Namun dia menambahkan bahwa kata itu sebenarnya lebih mengacu pada cerita yang berbau dongeng dan tidak begitu populer. Mangga lokal banyak tumbuh di bumi pedesaan provinsi Kalimantan Barat, terutama di daerah Ketapang dan sekitarnya, dan terkenal dengan nama buah klemantan. Dalam Bahasa Indonesia, wilayah utara pulau ini ( terdiri dari wilayah Sabah, Brunei, dan Sarawak ) pada masa lalu sering disebut sebagai wilayah Kalimantan Utara. Akan tetapi setelah melalui berbagai penyesuaian, dalam pengertiannya saat ini diubah menjadi nama Kalimantan Utara yang berarti adalah Kalimantan Timur bagian utara.


Sedangkan menurut pendapat C. Hose dan Mac Dougall, nama Kalimantan berasal dari nama 6 golongan dari suku - suku setempat. Suku - suku itu diantaranya suku Iban ( Dayak Laut ), suku Kayan, suku Kenyah, suku Klemantan ( Dayak Darat ), suku Murut, dan suku Punan. Dalam buku karangannya yang berjudul Natural Man, a Record from Borneo ( 1926 ), Hose menjelaskan secara gamblang bahwa Klemantan adalah sebuah nama baru yang sering kali digunakan oleh bangsa Melayu. Namun menurut Slamet Mulyana, kata Kalimantan bukan berasal dari kata Melayu asli tetapi merupakan kata pinjaman / saduran seperti halnya kata Malaya, ( melayu ) yang berasal dari bahasa India yang berarti gunung. Pendapat lain juga menyebutkan bahwa Kalimantan atau Klemantan berasal dari bahasa kitab Sanskerta, Kalamanthana yang berarti pulau yang berudara / berhawa sangat panas atau membakar ( kal[a] : musim, waktu dan manthan[a] : membakar ). Namun karena vokal / pengucapan ‘a’ pada kata manthana di masa itu biasa tidak diucapkan, maka Kalamanthana diucapkan sebagai Kalmantan dan kemudian oleh para penduduk asli menyebutnya Klemantan atau Quallamontan yang akhirnya dibakukan / diturunkan menjadi kata Kalimantan hingga sekarang. Penduduk di kawasan timur pulau ini sering kali menyebutnya sebagai Pulu K'lemantan, sedangkan bagi masyarakat eropa seperti Italia mengenalnya dengan sebutan Calemantan dan orang Ukraina menyebutnya Калімантан ( dengan aksara / huruf negara setempat ).


Hikayat Banjar, merupakan sebuah kronik kuno dari Kalimantan Selatan yang bab terakhirnya ditulis pada tahun 1663, namun naskah Hikayat Banjar itu sendiri berasal dari naskah dengan teks yang berasal dari bahasa Melayu yang lebih kuno pada masa kerajaan Hindu, di dalamnya menyebut Pulau Kalimantan dengan nama Melayu yaitu pulau "Hujung Tanah". Sebutan Hujung Tanah ini muncul berdasarkan bentuk geomorfologi wilayah Kalimantan Selatan pada zaman dahulu kala yang berbentuk sebuah semenanjung yang terbentuk dari deretan Pegunungan Meratus yang menjorok ke Laut Jawa. Keadaan ini identik dengan bentuk bagian ujung dari Semenanjung Malaka yaitu Negeri Johor yang sering disebut "Ujung Tanah" dalam naskah-naskah Kuno Melayu. Semenanjung Hujung Tanah inilah yang bersetentangan dengan wilayah Majapahit di Jawa Timur sehingga kemudian mendapat nama Tanjungnagara artinya pulau yang berbentuk tanjung/semenanjung.
Pulau Kalimantan sendiri memiliki banyak sekali kesenian dan adat istiadat yang terkenal. Mulai dari sejarah panjang kerajaan, budaya dan adat istiadat, benda - benda pusaka hingga senjata tradisional yang khas dan menyimpan sejuta misteri banyak ditemukan disini. Berikut adalah beberapa keunikan yang bisa ditemui di Pulau Kalimantan :
Kerajaan Besar


Terdapat 3 kerajaan besar yang terkenal di pulau ini, yaitu Kerajaan Borneo ( Brunei / Barune ), Kerajaan Succadana ( Tanjungpura / Bakulapura ), serta Kerajaan Banjarmasinn ( Nusa Kencana ). Dari sekian banyak kerajaan yang pernah berdiri dan berkuasa di masa lampau, Kerajaan Kutai merupakan salah satu kerajaan terbesar, dan tercatat menjadi kerajaan Islam pertama di Indonesia. Ditinjau dari sejarah Indonesia pada jaman kuno, Kerajaan Kutai merupakan kerajaan yang tertua di Indonesia. Hal ini dibuktikan melalui benda yang ditemukan berupa 7 buah prasasti yang tertulis diatas yupa atau tugu batu dan ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan menggunakan huruf - huruf Pallawa. Berdasarkan paleografinya, jenis tulisan tersebut diperkirakan sudah ada sejak abad ke-5 Masehi. Dari prasasti tersebut dapat diketahui adanya sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Raja Mulawarman, putera dari Raja Aswawarman, cucu dari Maharaja Kudungga. Kerajaan ini dikenal sebagai Kerajaan Kutai Martadipura, dan berlokasi di bagian seberang kota Muara Kaman. Pada awal abad ke-13 Masehi, berdirilah sebuah kerajaan baru yang terkenal dengan nama Kerajaan Kutai Kartanegara dengan rajanya yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti ( masa pemerintahan tahun 1300 - 1325 Masehi ) dan terletak di wilayah bagian Kutai Lama.


Dengan adanya dua kerajaan besar di kawasan Sungai Mahakam tersebut, akhirnya menimbulkan bentrok diantara keduanya. Pada abad ke-16 tumpahlah peperangan diantara kedua kerajaan Kutai tersebut. Kerajaan Kutai Kartanegara yang dipimpin rajanya, Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa, akhirnya berhasil menaklukkan Kerajaan Kutai Martadipura. Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti kemudian menggabungkan dua kerajaan yang dikuasainya tersebut dan mengubah namanya menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Pada abad ke-17, agama Islam masuk ke Indonesia dan diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai Kartanegara. Selanjutnya banyak nama - nama bernafaskan Islami yang muncul, yang pada akhirnya sering digunakan pada nama - nama raja dan keluarga besar kerajaan dari Kutai Kartanegara. Sebutan bagi para raja pun sering disematkan gelar dengan sebutan Sultan. Raja yang pertama kali menggunakan gelar kesultanan dan menyematkan nama Islam adalah Sultan Aji Muhammad Idris ( masa pemerintahan tahun 1735 - 1778 Masehi ). Kerajaan Kutai juga dikenang sebagai kerajaan yang memiliki peninggalan pusaka bersejarah, terutama yang menjadi senjata khas dari masyarakat Kalimantan.


Adat dan Budaya
Pada dasarnya budaya di Kalimantan terbagi menjadi dua, yaitu budaya pedalaman dan budaya pesisir. Atraksi dari kedua budaya ini masih sering ditampilkan setiap tahun dalam acara Festival Borneo, yang ikuti oleh para peserta dari keempat provinsi di Kalimantan, dan diadakan secara bergiliran di tiap masing - masing provinsi pulau tersebut. Penduduk asli Kalimantan dapat digolongkan kedalam empat kelompok, yakni Melayu, Melayu - Dayak, Dayak, dan Dayak - Melayu. Terdiri dari lima budaya dasar dari masyarakat asli rumpun Austronesia di Kalimantan ( atau lebih dikenal dengan sebutan Etnis Orang Kalimantan ) yaitu Melayu, Dayak, Banjar, Kutai dan Paser. Suku Melayu sendiri banyak menempati wilayah pulau Karimata dan pesisir Kalimantan Barat hingga Brunei. Keberadaan orang Melayu tersebut sering disamakan dengan keberadaan suku Betawi di pulau Jawa, terutama Jakarta. Suku Banjar menempati pesisir Kalimantan Tengah ( KalTeng ), Kalimantan Selatan ( KalSel ) hingga Kalimantan Timur ( KalTim ). Suku Kutai dan Paser adalah kelompok yang menempati wilayah Kaltim. Sedangkan suku Dayak menempati hampir seluruh daerah di pedalaman Kalimantan. Keberadaan orang Tionghoa banyak ditemukan di kota Singkawang, bisa dibilang sama seperti komunitas Cina Benteng yang banyak bermukim di Kota Tangerang.


Namun ada beberapa kota di Pulau Kalimantan yang diduduki secara politis oleh mayoritas dari kaum suku - suku imigran, seperti halnya suku Hakka ( Singkawang ), Jawa ( Balikpapan, Samarinda ), Bugis ( Balikpapan, Samarinda, Pagatan, Nunukan ) dan lain sebagainya. Suku imigran tersebut berusaha untuk memasukkan unsur budaya mereka dengan alasan tertentu, padahal sesungguhnya mereka tidak memiliki wilayah, dan adat serta keberadaan mereka tidak diakui sebagai bagian dari suku asli Kalimantan, meski pun keberadaan mereka telah cukup lama berada di pulau ini. Suku Bugis merupakan suku transmigran pertama yang menetap, berbaur dan memiliki hubungan historis yang cukup panjang dengan kerajaan - kerajaan Melayu di Kalimantan ( dalam hal ini kerajaan Islam ). Beberapa waktu yang lalu, suku Bugis telah mengangkat seorang panglima adat untuk memimpin pulau Nunukan dan menimbulkan reaksi dari lembaga adat suku - suku asli. Masyarakat Indonesia sejak dahulu terkenal atas keragaman suku bangsanya ( multikultural ) sehingga mampu melahirkan beragam ras, kebudayaan, kesenian, hingga kepercayaan yang berbeda bagi setiap kelompok. Dari situ timbulah berbagai macam bentuk pengobatan aternatif atau tradisional. Sebagian yang menjadi pilihan masyarakat Indonesia sebagai pengobatan alteratif bisa menjadi suatu hal yang sangat tidak rasional apabila dilihat dari kacamata medis modern saat ini. Misalnya seperti pengobatan yang mengandung nilai - nilai magis, pengobatan dengan ritual pemanggilan arwah melalui perantara dukun atau menggunakan organ – organ hewan tertentu yang sudah di awetkan.


Kalimantan terkenal kaya akan budaya kuliner, diantaranya adalah masakan sari laut. Tari Rindang Kemantis adalah gabungan tarian yang mengambil dari unsur seni beberapa etnis yang ada di Balikpapan, seperti suku Banjar, Dayak, Bugis, Jawa, Padang dan Sunda. Namun tarian ini dianggap kurang mencerminkan kebudayaan asli / lokal, sehingga menimbulkan protes dari lembaga adat suku - suku asli Kalimantan. Di Balikpapan sendiri pembentukan Brigade Lagaligo, yakni sebuah organisasi kemasyarakatan bagi warga perantuan asal Sulawesi Selatan, dianggap berbau provokasi dan ditentang oleh ormas suku lokal. Kota Sampit pernah dianggap sebagai Sampang kedua. Walikota Singkawang berasal dari suku Tionghoa, dan membangun sebuah patung liong, yaitu naga khas dari budaya Tionghoa yang sering dipajang di kelenteng, di pusat kota Singkawang, juga telah menimbulkan protes dari kelompok Front Pembela Islam ( FPI ), Front Pembela Melayu ( FPM ) dan aliansi LSM lainnya. Namun di lain pihak, suku Dayak sendiri justru mendukung keberadaan patung naga tersebut. Dalam budaya Kalimantan karakter naga sendiri biasanya digambarkan seperti karakter enggang gading, yang melambangkan keharmonisan antara dunia atas dan dunia bawah. Seorang tokoh dari suku imigran telah membuat tulisan yang menyinggung etnis Melayu. Walaupun demikian sebagian budaya dari suku - suku di Kalimantan merupakan hasil dari adaptasi, akulturasi, asimilasi, amalgamasi, dan inkorporasi dari banyak unsur - unsur budaya dari luar. Misalnya sarung Samarinda, sarung Pagatan, ampik ( batik Dayak Kenyah ), wayang kulit Banjar, benang bintik ( batik Dayak Ngaju ), tari zafin dll.


Benda - Benda Pusaka
Kalimantan terkenal akan kekayaan alamnya yang luar biasa. Hutan, Gunung, hingga Laut di Pulau Borneo selalu menyajikan hasil komoditi yang unik dan bernilai. Hutan Kalimantan terkenal dengan hewan dan tanaman yang banyak sekali ragam dan manfaatnya. Tak heran bila banyak sekali orang, bahkan dari bangsa lain yang ingin mengeksplorasi lebih di bumi Kalimantan. Damar, Rotan, Harimau, Badak hingga mahluk yang dianggap langka sekalipun, ada di Pulau Kalimantan. Masyarakat Indonesia sejak dahulu terkenal atas keragaman akan suku - suku bangsanya ( multikultural ) sehingga mampu melahirkan beragam ras, kebudayaan, kesenian, hingga kepercayaan yang berbeda bagi setiap kelompok. Dari situ timbulah berbagai macam bentuk pengobatan aternatif atau tradisional. Sebagian yang menjadi pilihan masyarakat Indonesia sebagai pengobatan alteratif bisa menjadi suatu hal yang sangat tidak rasional apabila dilihat dari kacamata medis modern saat ini. Misalnya seperti pengobatan yang mengandung nilai - nilai magis, pengobatan dengan ritual pemanggilan arwah melalui perantara dukun atau menggunakan organ – organ hewan tertentu yang sudah di awetkan.


Dayak merupakan nama kelompok atau suku yang paling terkenal ( atau bahkan tertua ) dari sekian banyak suku asli yang menetap di Kalimantan, yang sebagian besar masyarakatnya menghuni wilayah / daerah pedalaman. Daerah hilir atau daerah pantai adalah tempat yang banyak dihuni oleh orang - orang yang berasal dari suku Melayu, Banjar, Bugis, Jawa, Madura, dan lain - lain. Suku Dayak, sebagaimana suku - suku lainnya, juga memiliki kebudayaan dan adat istiadat yang berlaku bagi masyarakat mereka. Kebudayaan Dayak dikenal memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan yang lain. Salah satu seni kebudayaan yang terkenal dari suku Dayak adalah dari jenis senjata yang mereka gunakan. Mandau adalah senjata tradisional yang paling terkenal dari masyarakat Dayak, yang merupakan pusaka turun temurun sejak jaman bahari. Mandau sendiri merupakan senjata sejenis tombak yang terbuat dari batu pegunungan, dan dikombinasikan dengan besi tajam sebagai pucuknya. Selain itu, senjata ini memiliki ukiran yang khas, dan di anggap sebagai senjata pusaka yang memiliki tuah dan dianggap keramat oleh sebagian besar dari masyarakat mereka.

Sejak dulu suku Dayak dikenal sebagai kelompok orang - orang yang memiliki pengetahuan dan kepandaian dalam hal penyembuhan / pengobatan penyakit dengan media obat - obatan / ramuan tradisional. Mereka memiliki dukun – dukun yang handal. Mereka juga telah mengenal beragam jenis tumbuhan dan binatang yang memiliki khasiat untuk mengobati berbagai jenis penyakit, yang didukung dengan keberadaan hasil alam. Salah satu contoh benda pusaka adalah gigi badak. Konon, gigi badak berguna sebagai obat dalam menyembuhkan sakit gigi, ketika tertusuk kayu atau duri, luka akibat tertembus peluru, membantu memudahkan ketika mencabut gigi, melancarkan persalinan, mengobati gatal – gatal akibat terkena bulu ulat, dan lain sebagainya. Selain itu, batu akik juga masih menjadi primadona dalam hal keyakinan akan benda – benda pusaka dan bertuah. Yang termasuk benda seni dan unik yang terkenal dari para pengrajin Kalimantan adalah kerajinan batu akik. Batu akik adalah nama lain dari batu permata. Batu akik seringkali dikenakan sebagai perhiasan oleh banyak kaum lelaki. Batu akik inilah yang acapkali dipercaya mengandung penghuni gaib ( khodam ). Lebih dari 1.600 tahun yang lalu, tentara Roma sering menghancurkan batu permata / batu akik sampai lembut, kemudian dicampur dengan air lalu direbus. Hasilnya akan digunakan untuk mengobati penyakit terutama bagi penderita sakit ginjal dan limpa / hati. Selain itu, para ahli pengobatan dari negeri Arab juga menggunakan bubuk batu akik sebagai media untuk menghentikan perdarahan dan luka dalam. Bagi yang mengenakannya, konon batu akik mampu memberikan rasa ketenangan dan dapat mengatasi masalah bagi yang mengalami sukar tidur.
Post Comment
Rekomendasi close button
Back to top

0 komentar

Bagaimana Pendapat Anda?